Pura Tanah Lot merupakan satu dari sekian banyak
tempat persembahyangan umat Hindu yang memiliki nilai historis dan sarat nuansa magis. Letaknya pas di tengah laut dan dikawal lebih dari sepuluh lipi poleng (ular loreng) yang mengitari dasar pura.Sebagai tempat suci, Pura Tanah Lot memiliki “kesaktian” yang luar biasa. Lebih dari seratus tahun yang lalu didirikan di tengah laut, tapi hingga kini tetap kokoh berdiri, walaupun dijilati lidah ombak secara bertubi-tubi sepanjang waktu. Namun justru jilatan-jilatan lidah ombak di Pura Tanah Lot menjadi pemandangan yang luar biasa indahnya, apalagi saat matahari akan tenggelam (sunset).
Matahari akan berwarna teja kekuning-kuningan (jingga), senantiasa akan memukau bagi siapa saja yang memandangnya. Sungguh sebuah panorama alam yang sangat fantastis, saat matahari mulai beranjak ke peraduannya, dengan menyiratkan lembayung jingga di langit-langit Pulau Bali.
Selain terkenal karena keindahan alamnya, pura ini juga dikenal memiliki ular poleng yang sangat jinak, dan bisa disentuh siapa saja yang memiliki niat baik dan suci. Suci yang dimaksud misalnya, seorang wanita yang sedang haid dipantangkan untuk menyentuh ular tersebut, demikian juga kepada mereka yang sedang tertimpa kemalangan, yaitu ada salah seorang keluarganya yang meninggal, juga tidak disarankan menyentuh ular poleng tersebut.
Menurut Juru Sapuh Pura Tanah Lot, Jro Mangku Matra, ular yang ada di kawasan Pura Tanah Lot seperti yang sering disaksikan, tidak sama dengan ular sejenis yang ada di tempat lain. Ular tersebut disebut ular suci (holysnake). “Ular yang ada di Pura Tanah Lot merupakan ular ‘duwen’ Ida Bathara,” ujar Jro Mangku.
Bagi yang Sedang Pacaran, Dilarang “Tangkil”
Jika ada umat Hindu yang hendak “tangkil” (sembahyang) ke Pura Tanah Lot disarankan untuk tidak memakai sandal. Boleh mempergunakan sandal, asalkan saat berada dan memasuki area pura, sandal harus dilepas, apalagi mau masuk ke area “utama mandala”. Menurut Jro Mangku semua itu bertujuan untuk menjaga kesucian pura.
Jro Mangku juga membenarkan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bagi mereka yang sedang pacaran dilarang mengunjungi Pura Tanah Lot, karena kawasan tersebut sangat “tenget” / angker dan suci. Jika hal tersebut dilanggar, pasangan bersangkutan dipercaya akan mengalami kemalangan, atau setidaknya akan putus berpacaran.
Namun larangan tersebut bukan harga mati, asalkan pasangan kekasih mau melakukan doa mohon keselamatan kepada Ida Bathara yang ada di Pura Tanah Lot. “Boleh saja mengajak tunangan kesini, namun harus melakukan doa agar diberikan keselamatan oleh Ida Bathara sane malingga di Pura Tanah Lot,” urai Jro Mangku.
Danghyang Nirartha
Keberadaan Pura Tanah Lot erat kaitannya dengan perjalanan suci (tirthayatra) Danghyang Nirartha keliling Pulau Bali. Dalam perjalanan tirthayatranya, Danghyang Nirartha sempat singgah dan bermalam di Tanah Lot, sepulang beliau dari Pura Rambut Siwi, Jembrana. Dari Pura Rambut Siwi beliau terus menelusuri pantai ke arah timur, dan akhirnya tiba di Tanah Lot.
Disana beliau memutuskan untuk beristirahat dan bermalam. Tidak lama beliau istirahat, banyak warga masyarakat sekitar Tanah Lot yang datang ke beliau, yang kebanyakan petani dan nelayan. Akhirnya, malam harinya sebelum beliau istirahat, Danghyang Nirartha memberikan ajaran-ajaran agama, tata-susila, dan ajaran kebajikan kepada orang-orang yang menemuinya.
Saat itu Danghyang Nirartha menyarankan agar orang-orang itu membangun Parhyangan (pura atau kahyangan) disana, karena menurut getaran bathinnya yang suci serta petunjuk gaib, tempat itu baik sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan), guna memohon wara nugraha-Nya bagi keselamtan umat.(patra-MBA)
sumber:
http://www.baliaga.com/indonesia/pura/pura_tanah_lot.html